Melawan Diskriminasi dan Rasisme dengan Mengkomedikan kota Solo


Semerbak wangi beans coffee menyambut para pengunjung pada malam itu. Pengunjungan memenuhi kursi, menanti menu yang telah dipesan dan suguhan komedi dari stand up Indo Solo. Bertajuk JumatKumat, acara rutin open mic yang diadakan setiap Jum’at malam selalu menyita perhatian kaum muda kota Solo. Tepat di atas panggung berukuran kecil, berdiri dua orang pria sedang memegang mic dilanjut mengucap salam, tanda acara JumatKumat telah dimulai. Acara JumatKumat kali ini dipandu oleh Arum Mudub dan Farid, dua orang pria berambut gondrong dan kribo dengan licah mengawali acara malam itu. Duo mc ngawur dengan tagline “Wes..ewes...ewes Ngawur Mcne” berhasil mengundang tawa dari pangunjung.

Sepuluh line up komika pada malam itu mulai tampil bergantian dengan durasi dan kelucuan masing-masing. Tepuk tangan dan tawa pengunjung memberikan kehangatan pada malam itu. Beberapa komika menyita perhatian pengunjung karena keunikan dan materi yang dibawakan. Salah satunya ada Wahyu, komika disabilitas dengan keterbatasan penglihatan tersebut menceritakan keresahanya sebagai penyandang tuna netra. pengunjung yang awalnya merasa iba, perlahan memberikan tawa meraka kepada Wahyu. Wahyu memberitahu kepada pengunjung bahwa ia telah berdamai dengan hidupnya dan meminta pengunjung untuk memberikan tawa bukan rasa iba. Malam itu, Wahyu menceritakan keresahanya yang takut jika diajak temannya karaoke.

Saya ini ga bisa nikmatin asiknya karaoke. Teman-teman pada ngapalin lagu dan asik nyanyi. Saya, dipojokan ngapalin jalan pulang.”

Wahyu memang sering membawakan dark jokes (komedi gelap) sebagai bentuk perdamaiannya terhadap dirinya. Begitupun dengan komika selanjutnya yang bernama Fano, komika dengan tubuh mungil itu memiliki kelainan pada tangan dan kaki kanannya yang tidak dapat berfungsi dengan normal, Ia menyebut penyakitnya dengan “cacat migren”. Sama seperti Wahyu, ia menolak untuk dikasihani dan memilih untuk dikasih tawa. Dua komika tersebut memiliki cara yang hampir sama untuk berdamai pada hidupnya dengan milih jalur komedi. Fano menceritakan keresahaanya yang tidak dapat melakukan aktivitas orang normal.

“Karena tangan dan kaki saya cacat, saya ngga bisa melakukan aktivitas orang normal. contohnya joget pargoy. Orang-orang joget pargoy kelihatan bagus. Saya, joget pargoy dikira stroke ringan”

Penampilan Wahyu dan Fano pada malam itu, memerikan tawa sekaligus pandangan baru terhadap penyandang disabilitas. Mereka dengan kekuranganya ingin dipandang dan diperlakukan sama orang pada umumnya. Sama seperti Tarsis yang sempat mendapat diskriminasi saat ia pertama merantau ke Solo. Tarsis merupakan komika stand up Indo Solo yang berasal dari Papua. Berkulit hitam, berbadan gempal, brewokan dan suara lantang menambah kesan garang pada dirinya. Tarsis sempat menceritakan dirinya yang dianggap sebagai “tunggale wong rusuh” (bagian dari orang rusuh). Di Indonesia, stigma orang timur selalu dianggap sebagai biang kerusuhan dan debt collector. Tarsis menyuarakan perlakuan yang didapatkan melalui stand up comedy sebagai bentuk kritiknya. “Diam ditindas, bangkit melawak” menjadi motivasinya ketika memberikan kritik ketidakadilan dalam jalur komedi. Suguhan materi komedi tunggalnya memberikan apresiasi dan tawa dari pengunjung. Apresiasi penuh diberikan oleh pengunjung, saat tarsis menceritakan kekagumannya terhadap sopan santun orang Solo.

“Jujur saya kagum dengan sopan santun orang Solo. Saya pernah tidak sengaja menginjak kaki bapak-bapak sewaktu naik kereta, tapi bapak itu yang minta maaf duluan ‘ngapunten mas sikil kulo’. Disitu saya malu, akhirnya saya mundur. Saking malunya saya mundur dari gerbong satu sampai Tulung Agung.”

Tarsis memberikan pandangan baru terhadap orang timur kepada pengunjung. Ia menegaskan bahwa perbedaan memebrikan warna indah dalam kehidupan, semua akan membosankan apabila terlihat sama. Penampilan tarsis pada malam itu menjadi penampilan terakhir sekaligus headliner dalam acara JumatKumat. 

Komentar